Jakarta, KATAFAKTA.COM – Bos PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) Akbar Djohan menyebut bahwa perseroan kini sudah masuk sebagai bagian dari keluarga besar Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia.
“Kami tambahkan, kami sudah masuk dalam keluarga besar Danantara sebagai pengelola kurang lebih US$ 1 triliun,” ucap Akbar pada agenda paparan publik yang berlangsung secara daring, Selasa (25/11/2025
Atas hal tersebut, Akbar pun mengaku optimistis, KRAS akan kembali bangkit dan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Keterlibatan Danantara dalam pemulihan kinerja KRAS memberikan sentimen positif di pasar. Terbukti, performa saham KRAS menguat 8 poin (2,56%) ke level 400 pada perdagangan, Selasa (24/11/2025), saat berita ditulis. Kenaikan tersebut mencerminkan penguatan sebanyak 277,36% terhitung sejak awal tahun (year-to-date/ytd).
Menurut Akbar, fluktuasi harga saham KRAS merupakan murni didorong oleh respons para pelaku pasar dan bukan karena digerakkan oleh informasi atau kejadian material yang belum diumumkan perseroan kepada publik.
“Fokus kami menjalankan transformasi operasional, efisiensi biaya dan memperkuat fundamental jangka panjang. Setiap informasi material pasti kami sampaikan melalui keterbukaan informasi,” tegas Akbar.
Bukan hanya itu, Akbar menuturkan, KRAS juga fokus menjalankan program transformasi bisnis dengan melakukan efisiensi secara operasional, memperbaiki struktur biaya energi, dan mengoptimalisasi portofolio anak usaha.
“Semua inisiatif tersebut kami yakini akan memperkuat fundamental Krakatau Steel dalam jangka menengah dan panjang,” imbuhnya.
Mitra Strategis
Di sisi lain, Krakatau Steel juga membuka pintu untuk terciptanya kolaborasi bersama mitra strategis terutama pemain industri global untuk bersinergi dan membangun kolaborasi konstruktif dengan Grup Krakatau Steel.
Dari sini, pikir Akbar, beberapa investor rupanya mulai memberikan respons positif atas inisiatif transformasi yang tengah dijalankan perseroan. Termasuk, langkah-langkah perbaikan keuangan, restrukturisasi operasional dan peluang peningkatan permintaan baja dari proyek hilirisasi industri nasional.
“Jadi (fluktuasi harga saham) ini persepsi pasar dan bukan hal yang dapat kami kontrol. Kami menghargai kepercayaan investor dan akan terus memastikan tata kelola yang kuat, kinerja transparan dan eksekusi program kerja yang konsisten,” pungkasnya.













