Bekasi, KATAFAKTA.COM – Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) mengancam mogok berjualan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah terkait dengan harga daging yang tidak stabil. Seruan mogok dagang pedagang sapi se- Indonesia, karena harga daging sudah tidak masuk akal lagi. Adapun rencana pedagang daging akan melakukan mogok jualan terhitung Selasa (6/1/2026).
Pernyataan itu diungkapkan Sekjen APDI, Yayan Suryana, menanggapi gejolak harga daging sapi yang akhir-akhir ini dinilai sangat memberatkan para pelaku usaha daging, khususnya di pasar tradisional.
“Langkah pas dan tepat untuk ditindaklanjuti oleh teman-teman pedagang. Tanpa keberanian kita untuk mengambil sikap, sulit sepertinya pemerintah mau peduli dan mau tau keprihatinan keadaan pedagang daging. Dengan langkah ini, kita juga memiliki kekuatan yang amat sangat solid,” tegas Yayan.
Yayan mengaku sangat keberatan dengan adanya harga yang ditetapkan pemerintah di angka Rp56 hingga Rp58 ribu per kilogram. Namun jika melihat kondisi riel di pasar tradisional, harga daging sapi saat ini tembus di angka Rp130 hingga Rp140 ribu per kilo gram.
Sementara katanya, belanja modal daging sapi pada musim libur Nataru ini di angka Rp125 ribu per kilo gram. Bahkan, pada musim libur lebaran 2026 mendatang harga daging sapi diprediksi bisa tembus di angka Rp160 ribu per kilo gram.
“Yang kami pikirkan adalah daya beli masyarakat. Sebagai pedagang daging tentunya kami memiliki tanggung jawab moril. Jangan sampai HET yang ditetapkan oleh pemerintah justru jadi bumerang bagi para pelaku usaha daging sapi. Khusunya di pasar tradisional,” ujar Yayan kepada wartawan di Kota Bekasi, Kamis (1/1/2026).
Untuk itu APDI meminta kepada pemerintah agar memberikan solusi terbaik di tengah gejolak harga daging sapi yang akhir-akhir ini dikeluhkan oleh para pelaku usaha daging sapi.
“Pemerintah mau tidak mau akan ada tindakan reflek terhadap langkah yang kita ambil dalam bersikap dengan keadaan sekarang yang amat sulit dan susah,” imbuhnya.
Yayan juga mengakui bahwa penjualan daging sapi pada libur Nataru 2025 ini menurun drastis hingga 40 persen. Persoalan itu dipicu lantaran harga daging sapi yang cukup tinggi, sehingga konsumen lebih memilih menu alternatif untuk menyiasati harga daging sapi yang meroket.
“Kami prediksi pasca libur Nataru ini pedagang daging sapi pembeli. Dan kembali ramai nanti jelang idul fitri, tapi itu pun dengan harga yang tak menentu,” ungkap Yayan.
Pihaknya berharap agar pemerintah mengeluarkan kebijakan harga faktur HET daging sapi sampai kepada pedagang di angka Rp54 hingga Rp55 ribu per kilo gram. Jika harga tersebut tidak bisa ditekan solusi lain yakni adanya subsidi daging beku dari pemerintah yang diimpor dari India.
“Sebab selama ini para pedagang daging khususnya di pasar tradisional hanya mengandalkan 70 persen sapi lokal dan sisanya daging impor beku dari India,” katanya.
Sayangnya, harga daging beku dari India juga hampir mendekati harga daging sapi lokal. Hal tersebut yag menjadi dilema bagi para pedagang daging di pasar tradisional.
Selama ini, kata Yayan, APDI tidak pernah mendapatkan kuota impor. Sementara pembelian daging impor melalui pihak ketiga.
“Untuk itu kami berharap agar pemerintah memberikan kuota impor pada APDI, sehingga harga daging sapi di pasaran dapat kembali normal,” harapnya.
Yayan juga mengaku tidak dapat berbuat banyak jika pemerintah tidak sesegera mungkin melakukan stabilitas harga daging di pasaran.
“Jika pemerintah tidak mengindahkan keluhan para pedagang daging, tidak ada jalan lain maka dimulai tanggal 6 Januari ini seluruh anggota APDI akan mogok berjualan,” pungkas Yayan.
JAPPDI ikut Mengambil Sikap Mendukung Pernyataan APDI
Menyikapi hal tersebut, Jaringan Pemotong dan Pengusaha Daging Indonesia (JAPPDI) ikut mengambil sikap mendukung pernyataan APDI.
“Tanpa pedagang, sebagai pemotong sapi dan penjual daging sapi, mereka pemilik feedlot tidak punya pasar daging. Salam sehat dan tetap semangat.Tetap jaga keutuhan dan kekompakan, bahwa kita kuat dan solid,” ungkap perwakilan JAPPDI.
Ditambahkan, sesungguhnya pedagang daging sapi dan kerbau memiliki peran penting dalam menentukan laju pertumbuhan ekonomi skala nasional dan regional.
“Kenaikan harga timbang hidup sapi menjadi harga potongan timbang karkas sudah tidak rasional. Sudah selayaknya pemerintah mengambil sikap tegas dan obyektif dalam menyikapi keadaan seperti ini yang terus berulang-ulang dalam tahun-ketahun berikutnya dengan program kerja secara utuh dan menyeluruh,” harapnya.
Sudah semestinya pemerintah memahami kondisi keadaan ini.
Ketika musim kemarau terjadi di negara Australia, secara tidak langsung pakan ternak mahal, ladang rumput tempat gembala sapi kering. Pada posisi ini terjadi pada bulan Mei hingga Oktober pada tahun berjalan, pada posisi iklim seperti ini ekspor sapi tidak ada pembatasan.
“Dalam posisi ini semestinya jumlah dan volume impor sapi di naikan angkanya, ketika memasuki musim hujan tiba dan padang rumput mereka subur ekspor sapi dari Australia dibatasi dan kompetitor peserta negara yang membeli/importir bertambah seperti negara Amerika, China, Vietnam dan seterusnya,” ucapnya.
Lebih lanjut katanya, jika pemerintah Indonesia mampu mengambil sikap terhadap kurs valuta asing macam nilai tukar dollar terhadap rupiah bisa turun dari posisi 16.700,-/US dollar menjadi 13.100/US dollar, otomatis harga timbang sapi hidup bakalan dari Australia dengan nilai 3.75 US dollar X 13.100,- Rp. 49.125,-/kg.
“Sehingga harga timbang harga potongan/karkas ada di posisi Rp. 97.000,- s/d Rp. 98.000,-/kg,” ujarnya lagi.
Itulah faktor-faktor yang menyebabkan terjadi fluktuasi perubahan dan penyesuaian harga, disamping adanya peningkatan volume permintaan khusus menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
“Khusus momen menjelang Ramadhan dan Idul Fitri sudah menjadi catatan penting dijadikannya oleh para pengusaha dalam negeri dan Australia untuk dapat menaikan harga,” tutupnya.













