KAB. BANDUNG, KATAFAKTA.COM – Rumah Potong Hewan (RPH) Dinas Pertanian diduga kerap buang limbahnya ke parit. RPH yang berlokasi di Jl. Mekarsari RT 06/23 Kel Baleendah Kec Baleendah masih belum maksimal dalam pengolahan limbah hasil potongan hewan sapi dan ayam potong.
Kolam IPAL di lokasi RPH tampak kurang bagus, meski diolah dengan cara biologi, lokasi juga tampak kumuh. Jalur drainase penuh dengan sisa-sisa hasil jagal hewan, baik kotoran, darah juga sisa isi jeroan hewan.
Seperti diketahui, di RPH tersebut terdapat 3 bandar Sapi jagal dan 3 bandar ayam potong, namun faktanya limbah mereka masih kerap mencemari lingkungan.
Saat dikonfirmasi terkait hal tersebut ke Kepala UPT Dinas Pertanian, Kasubag RPH, Nia mengatakan bahwa Kepala UPT (Atep) sedang rapat diluar kantor dan selain itu ia juga mengakui memang di RPH tersebut ada 3 bandar Sapi jagal dan 3 bandar ayam potong.
“Pak Atep sedang rapat diluar, adanya keadaan di RPH kita akui memang belum maksimal dalam upaya mengolah limbahnya. Namun kita berusaha terus untuk memaksimalkan dalam perbaikan ipal kita ini,“ ucapnya, Jum’at (25/11/2022).
Lebih lanjut katanya, pengolahan IPAL, pihaknya pakai biologi dan bisa di lihat ada beberapa kolam di sana, kolam awal dan kolam hasil dari pengolahan biologi, selain itu juga selalu uji lab di dinas, dan hasilnya baik layak untuk di alirkan air limbahnya ke sungai.
“Kita sedang lakukan perbaikan untuk IPALnya, karena mungkin terlalu jauh untuk di salurkan limbahya ke sini, jadi kemarin-kemarin masih kurang maksimal, sehingga limbahnya terutama bulu ayam masih di mana saja. Maklum pak sekarang ini ada kemerosotan, biasa potong sehari 22 ekor, saat ini hanya 5 ekor saja, faktor PMK juga,“ keluhnya.
Diakui juga sebenarnya dilema, di satu sisi PAD ditekan, namun di lapangan tidak tercapai, awalnya karena dampak corona terus PMK, tapi kita usahakan biar baik. Saat ini juga banyak pesaing dari rumah potong swasta sehingga berpengaruh pada pendapatan, dan juga anggaran yang minim setahun 100 juta hanya untuk operasional, bila anggaran yang lain harus pengajuan dulu.
“Jadi faktor-faktor itulah pengolahan limbah dalam kebutuhannya terbatas,” jelasnya.
Sementara, Slamet selaku operator limbah RPH membenarkan bahwa RPH ini pakai biologi dalam upaya pengolahan limbahnya, dan menurutnya sudah baik.
“Memang kolam ini kolam lama yang tidak di bersihkan sehingga tampak kurang bagus, tapi kita sudah olah limbahnya, untuk limbah potong ayam saat ini kita masih lakukan upaya biar baik,” ungkapnya.
Nia menambahkan, pihaknya juga sering di datangi Satgas Citarum, terakhir Hari Raya Idul Adha, mereka lihat dan kontrol limbah RPH.
“Saya lupa namanya, tapi jaman pak Cecep kepala UPTnya sering kok Satgas hadir di sini, untuk saat ini saya tidak tahu, apa lagi Kepala UPT (Atep, red) masih baru satu bulan, jadi belum paham betul,” katanya.
Dikesempatan yang sama, pihak ayam potong menjelaskan, bila ke sini habis Maghrib atau agak malaman baru ramai, karena operasinya ayam potong malam, jadi bisa langsung lihat langsung pemotongan ayamnya,” imbuhnya.
Saat awak media menyambangi langsung ke Posko Utama Satgas Citarum Sektor 6 di Perumahan Stella Baleendah, Dansektor tidak ada di tempat. Didapati keterangan dari posko bahwa Dansektor sudah pulang. (Red)









