Penindakan Pada Oknum Pelaku Industri Yang Melanggar Lingkungan oleh Dinas Lingkungan Hidup. Seperti Jeruk Makan Jeruk

katafakta.com Sebarkan Fakta Cerdaskan bangsa 26/09/2022 26 September 2022 https://katafakta.com

BANDUNG, KATAFAKTA.COM – Tempat Pembuangan Sampah TPK Sarimukti Cipatat, Kabupaten Bandung Barat yang dinilai sudah tidak memadai untuk beroperasi, dipaksakan harus beroperasi. Seharusnya tempat tersebut sudah harus di tutup beberapa tahun lalu, namun masih saja di paksakan, sehingga menjadi overload.

“Memang benar, TPK Sarimukti tidak layak beroperasi dan air lindi kita akui masih belum bisa diproses dengan baik, sehingga masih by pass ke mengalir ke sungai Citarum. Namun kita masih melakukan upaya agar bisa diproses dengan baik,” jelas Arief Perdana selaku Kepala Balai PSTR DLH Jawa Barat saat beraudiensi dengan Forum Jurnalis Peduli Publik (FJP2) bertempat di ruangan Dharma Wanita Persatuan (DWP), Komplek Istana Kawaluyaan, Jalan Kawaluyaan Indah Raya No. 6, Jatisari, Kec. Buah Batu, Rabu (25/5/2022).

Pihaknya terus memantau progres pengolahan air lindi TPK Sarimukti dinilai sudah mengalami perbaikan, telah mulai tumbuh bakteri-bakteri yang dinilai akan memakan bakteri jahat penghasil buruknya kwalitas air lindi yang dihasilkan dari sampah.

“Untuk penjelasan secara ilmiah dengan data-data dan hasil pemeriksaan berkala, nanti kita akan sampaikan kembali kepada bapak-bapak, dengan anggaran besar yang kita keluarkan untuk projek peningkatan IPAL TPK Sarimukti. Kita berkomitmen akan bekerja secara maksimal, apabila tidak mendapatkan hasil sesuai harapan, kita akan selidiki penyebab utama dan siapa yang bertanggung jawab,” tegas Arif.

Terkait Legok Nangka, pihaknya malu karena dianggap mangkrak, seharusnya sejak zaman kepemimpinan mantan Gubernur Jawa Barat Pak Aher sudah berjalan, tapi hingga saat ini masih terjadi kendala.

“Disatu sisi kita juga bekerjasama dengan pihak swasta menggunakan biaya yang cukup tinggi, untuk Legok Nangka mencapai Rp 386 ribu/ton, tapi bila di Sarimukti hanya Rp 50 ribu, tentu ini juga kendala, sehingga belum bisa beroperasi,” ucap Arief.

Arief menambahkan, Dinas sendiri kesulitan masalah anggaran, untuk proyek IPAL Sarimukti, ini saja masih pinjam dana dari luar. Bayangkan saja untuk listrik bisa mencapai 900 juta, belum lagi obat dan lain-lain. Jadi memang banyak kendala pada anggaran operasional, belum lagi masalah Nambo Bogor itu juga masih kendala, tapi kita terus berupaya.

“Memang program Citarum ini DLH menjadi garda terdepan untuk melakukan penindakan pada oknum pelaku industri yang melanggar lingkungan. Seperti jeruk makan jeruk, saat anaknya juga terlihat ikut mencemari lingkungan, karena limbah lindi masih belum baik, jujur saya malu sebenarnya,” ungkap Arief.

Sementara, Budi selaku KaUPTD menambahkan, terkait proyek peningkatan kwalitas pengolahan air Lindi TPK Sarimukti, ia sudah sampaikan bahwa saat ini sedang proses Seeding, dimana akan lihat proses pertumbuhan bakterinya.

“Realisasi pekerjaan telah selesai hingga bulan Desember kemarin, dengan masa perawatan hingga bulan Juni ini. Insya Allah nanti akan terlihat perkembangannya,” kata Budi.

Sangat disayangkan DLH Jawa Barat yang menjadi garda terdepan dalam mengawal program Citarum Perpres No 15 Tahun 2018, tampak lemah dan tak berdaya menghadapi anaknya sendiri yang terlihat jelas tidak mampu mengatasi pencemaran sungai akibat limbah cair lindi TPK Sarimukti Cipatat.

Lalu bagaimanakah penjelasan ilmiah saat Citarum dinyatakan tercemar ringan di hadapan para pejabat pusat saat rapat bersama di Purwakarta yang di hadiri oleh Menkomarves Luhut Binsar Panjaitan (LBP), diduga hanya untuk menghibur saja.

Hadir dalam audensi Ka Balai PSTR DLH Jabar, Arief Perdana yang mewakili Kadis LH Jawa Barat, Ka UPTD dan beberapa staf, juga Kabagum Ahmad Efrizal. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.