Dari Laboratorium ke Meja Makan: Peran Tak Terlihat Analisis Pangan Menjaga Kita dari Bahaya Makanan

  • Bagikan
Oplus_131072

JAKARTA, Saat kita menyantap makanan di rumah, restoran, atau membeli camilan di minimarket, jarang terpikir proses panjang yang dilalui sebelum makanan itu sampai ke tangan kita. Di balik rasa, aroma, dan tampilan yang menggoda, ada satu tahap penting yang jarang disorot publik: analisis pangan.

Inilah proses ilmiah yang diam-diam bekerja memastikan makanan yang kita konsumsi bebas dari zat berbahaya, mengandung nutrisi sesuai klaim, dan layak dikonsumsi. Tanpa analisis pangan yang akurat, kita bisa saja terpapar cemaran kimia, mikroorganisme patogen, atau bahan tambahan yang tidak seharusnya.

Menurut WHO (2015), sekitar 600 juta orang di seluruh dunia jatuh sakit setiap tahunnya akibat makanan yang terkontaminasi, dan lebih dari 420.000 orang meninggal dunia. Di Indonesia sendiri, pengawasan pangan masih menjadi tantangan besar. Dalam Laporan Kinerja BPOM Tahun 2024, tercatat bahwa lebih dari 2.000 produk pangan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) karena ditemukan mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, dan pewarna tekstil yang dilarang.

Mengapa Analisis Pangan Begitu Penting?

Makanan yang terlihat segar dan lezat belum tentu aman dikonsumsi. Dikutip dari Andarwulan (2011) Analisis pangan adalah salah satu sub bidang ilmu pangan yang berhubungan dengan cara-cara atau metode analitik dalam mendeteksi dan menetapkan komponen-komponen yang terdapat dalam bahan pangan baik segar maupun olahan.

Di era globalisasi saat ini, di mana makanan bisa berpindah lintas wilayah dalam waktu singkat, pentingnya sistem analisis yang cepat dan akurat menjadi mutlak. Selain keamanan, analisis pangan juga penting untuk mendukung label gizi yang jujur dan akurat. Klaim seperti “bebas lemak trans”, “tinggi serat”, atau “rendah gula” harus dibuktikan melalui pengujian laboratorium. Tanpa itu, masyarakat bisa membuat keputusan konsumsi yang keliru, dan berisiko terhadap penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi.

Apa Saja yang Dianalisis?

Analisis pangan mencakup berbagai jenis uji, seperti:
Analisis kimia: kandungan gizi (protein, lemak, serat, gula, garam), zat aditif, dan sisa pestisida.
– Analisis mikrobiologi: mendeteksi bakteri patogen seperti Salmonella, Listeria monocytogenes, dan Escherichia coli.
– Analisis cemaran logam berat: seperti timbal (Pb), merkuri (Hg), arsen (As), dan kadmium (Cd).

Uji bahan tambahan: memastikan pemakaian pengawet, pewarna, dan pemanis sesuai ambang batas aman.
BPOM menyatakan dalam berbagai rilisnya bahwa masih banyak produk, terutama yang dijual di pasar tradisional, tidak melewati proses pengawasan atau pengujian. Karena itu, deteksi dini melalui analisis laboratorium menjadi benteng utama sebelum produk masuk ke rantai distribusi.

Dampaknya bagi Konsumen dan Industri

Bagi pelaku industri pangan, analisis pangan bukan sekadar kewajiban hukum. Ini juga menjadi strategi penting untuk menjaga nama baik perusahaan, mencegah produk ditarik dari pasaran, dan membangun kepercayaan konsumen. Penelitian oleh Liao et al. (2020), menunjukkan bahwa ketika terjadi penarikan produk makanan karena masalah keamanan, perusahaan bisa mengalami kerugian besar dan kehilangan kepercayaan publik. Sebaliknya, perusahaan yang rutin menguji produknya justru lebih mudah menembus pasar ekspor dan dikenal sebagai produsen yang bisa dipercaya.

Dampaknya juga terasa langsung bagi masyarakat. Jika makanan yang kita konsumsi mengandung zat berbahaya atau bakteri, bisa terjadi keracunan atau bahkan penyakit serius seperti gangguan hormon dan kanker. Menurut Wu et al. (2021), saat ini konsumen makin bergantung pada label makanan, izin resmi, dan informasi asal-usul produk untuk memastikan makanan yang dibelinya aman. Semua informasi ini tentu harus dibuktikan lewat analisis di laboratorium.

Lebih dari itu, kepercayaan konsumen bisa hilang dalam sekejap jika ada produk makanan yang terbukti berbahaya. Masih menurut Liao et al. (2020), setelah kasus seperti ini terjadi, banyak konsumen akan berpaling ke merek lain dan sulit kembali percaya. Inilah alasan mengapa analisis pangan bukan hanya soal keamanan makanan, tapi juga soal menjaga kepercayaan dan perlindungan masyarakat secara luas.

Ketika Analisis Diabaikan

Beberapa kasus besar menunjukkan bagaimana kelalaian dalam pengujian pangan bisa berakibat fatal. WHO mencatat bahwa bahan kimia seperti aflatoksin, etilen glikol, atau dioxin telah menyebabkan ribuan kasus kematian akibat makanan tercemar. Di Gambia, tahun 2022, ratusan anak meninggal karena sirup yang mengandung senyawa beracun yang seharusnya dapat terdeteksi jika analisis dilakukan dengan benar.

Di Indonesia, kasus pangan TMS sering ditemukan saat momen Ramadhan dan Idul Fitri. Pada pengawasan Ramadan 2024, BPOM melalui jaringan balai-balainya menemukan ribuan produk makanan yang mengandung bahan berbahaya, tidak mencantumkan izin edar, atau menggunakan kemasan daur ulang yang berisiko kontaminasi.

Menutup: Dari Laboratorium, Untuk Semua

Analisis pangan bukan hanya bagian dari proses industri tapi juga bagian dari hak konsumen untuk mendapat pangan yang aman, bermutu, dan jujur. Pemerintah dan masyarakat sama-sama punya peran: pemerintah dalam hal pengawasan dan edukasi, masyarakat dalam hal memilih produk yang terpercaya dan sadar label.
Sudah saatnya kita tidak hanya menilai makanan dari rasa dan harga. Mari kita mulai peduli pada apa yang terkandung dalam makanan kita, dan pada siapa yang memastikan makanan itu aman untuk dikonsumsi. Karena dari laboratorium yang sunyi, sesungguhnya dimulai perlindungan paling dasar bagi hidup kita: keamanan pangan.

Artikel ini ditulis oleh:
Aura Putri Azarine

 

Daftar Pustaka

World Health Organization. (2015). Estimates of the Global Burden of Foodborne Diseases. Retrieved from https://www.who.int/publications/i/item/9789241565165
Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. (2024). Laporan Kinerja BPOM Tahun 2024. Retrieved from https://www.pom.go.id
WHO. (2023). Food Safety Fact Sheet. Retrieved from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/food-safety
Liao, C., Luo, Y., & Zhu, W. (2020). Food safety trust, risk perception, and consumers’ response to company trust repair actions in food recall crises. International journal of environmental research and public health, 17(4), 1270.
Wu, W., Zhang, A., van Klinken, R. D., Schrobback, P., & Muller, J. M. (2021). Consumer trust in food and the food system: a critical review. Foods, 10(10), 2490.

  • Bagikan