FACT or FAKE? Menguak Klaim Tinggi Serat pada Produk Pangan Melalui Food Analysis

  • Bagikan
Oplus_131072

JAKARTA, Di tengah tren hidup sehat atau clean eating dan meningkatnya kesadaran gizi, mulai dari sereal hingga camilan ringan berlomba-lomba menggunakan klaim seperti “tinggi serat”, “baik untuk pencernaan”, atau “kaya serat alami” sebagai senjata utama pemasaran produk makanan. Tapi, apakah semua klaim tersebut benar-benar didukung oleh data ilmiah? Atau jangan-jangan hanya jadi strategi manis yang membungkus fakta seadanya?

Melalui ilmu analisis pangan (food analysis), kita bisa membongkar kebenaran di balik label yang tampak menyehatkan. Berikut beberapa aspek penting yang perlu diketahui:

Apa Itu Serat?
Serat adalah bagian dari makanan yang nggak bisa dicerna sepenuhnya oleh tubuh kita. Tapi jangan salah, walau nggak diserap, serat punya manfaat luar biasa!

Serat banyak ditemukan di bagian dinding sel tanaman, dan bisa berasal dari sayuran, buah, kacang-kacangan, hingga umbi-umbian seperti singkong dan kentang. Jenisnya pun ada dua: serat larut dan serat tidak larut. Serat larut bisa larut dalam air dan membantu menjaga kadar gula dan kolesterol, sementara serat tidak larut bantu melancarkan pencernaan karena “menyapu” isi usus. Selain itu, serat juga terbagi jadi serat makanan (yang bisa difermentasi di usus besar) dan serat kasar (yang tetap bermanfaat walau tidak dicerna). Jadi, walau kelihatannya sepele, serat justru punya peran penting banget buat jaga tubuh tetap sehat.

Mengapa Serat Penting Untuk Tubuh?
Serat bukan cuma baik, tapi juga “penting banget” buat tubuh. Dengan cukup makan serat setiap hari, kita bisa bantu mencegah berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, hingga sembelit. Serat juga membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dan menjaga kesehatan jantung. Bahkan, konsumsi serat yang cukup bisa mengurangi risiko kanker usus besar. Nggak cuma itu, serat juga bikin kita kenyang lebih lama, jadi cocok banget buat kamu yang sedang diet atau jaga berat badan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan asupan serat harian sebanyak 25-30 gram per hari untuk orang dewasa. Sayangnya, banyak orang belum mencapai angka itu. Padahal, dengan memakan sayur, buah, dan makanan tinggi serat lainnya dapat membuat tubuh tetap fit dan pencernaan aman tiap harinya.

Bagaimana Klaim “Tinggi Serat” Ditentukan?

Nggak semua label di kemasan itu bisa langsung kita percaya mentah-mentah, lho. Salah satu contoh yang sering bikin bingung konsumen adalah klaim “tinggi serat”. Berdasarkan pedoman resmi dari Codex Alimentarius dan juga Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, suatu produk hanya boleh diklaim “tinggi serat” jika mengandung minimal 6 gram serat per 100 gram produk padat, atau minimal 3 gram per 100 ml untuk produk cair.

Peran Food Analysis: Membuktikan atau Membongkar?

Untuk mengetahui seberapa banyak serat dalam sebuah produk makanan, para ahli menggunakan metode standar internasional dari AOAC (Association of Official Analytical Collaboration). Salah satu metode klasik yang sudah lama dipakai adalah metode Prosky. Di metode ini, makanan diolah dengan enzim khusus untuk menghilangkan zat-zat lain seperti pati dan protein. Setelah itu, bagian tersisa yang tidak dapat larut dan tidak bisa dicerna akan ditimbang dan dihitung sebagai serat.

Tapi ternyata, tidak semua jenis serat bisa terdeteksi dengan metode lama itu. Beberapa jenis serat seperti inulin, pati resisten, dan oligosakarida (yang larut dalam air tapi nggak mengendap) justru terlewat. Padahal, jenis serat ini juga penting banget buat tubuh, terutama buat pencernaan dan kesehatan usus.

Sehingga, sekarang digunakan metode baru yang lebih canggih dan lengkap, seperti OMA 2017.16 dan OMA 2022.01. Metode ini dirancang supaya dapat meniru kondisi di dalam tubuh manusia, seperti suhu tubuh (37°C), waktu cerna (sekitar 4 jam), dan pH yang netral. Dengan pendekatan ini, semua jenis serat, baik yang larut maupun yang tidak larut dapat dihitung lebih akurat.

Kritisi Label: Konsumen Berhak Tahu!
Konsumen seringkali hanya terpaku pada label besar di depan kemasan tanpa membaca tabel informasi nilai gizi di bagian belakang. Padahal, dari sanalah informasi asli berasal, termasuk berapa gram serat sebenarnya yang terkandung dalam produk tersebut per sajian atau per 100 gram. Tapi jangan berhenti di situ aja. Penting juga untuk memeriksa apakah produk tersebut sudah terdaftar di BPOM dan apakah klaim gizinya telah melewati evaluasi resmi.

Caranya gampang banget:
Kunjungi situs resmi BPOM di cekbpom.pom.go.id atau lewat aplikasi BPOM Mobile.
Masukkan nama produk, nomor registrasi, atau nama produsennya di kolom pencarian.
Kalau produk tersebut terdaftar resmi, akan muncul info lengkap mulai dari nama dagang, komposisi, bentuk sediaan, hingga status legalitasnya.
Beberapa produk bahkan menyertakan klaim gizi yang sudah dievaluasi BPOM. Nah, dari situ kamu bisa tahu apakah klaim “tinggi serat” itu benar-benar valid atau hanya gimmick pemasaran.

Langkah ini sangat berguna, apalagi buat kamu yang sedang menjaga kesehatan atau memiliki kondisi khusus seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan pencernaan yang mengandalkan asupan serat tertentu. Edukasi konsumen adalah kunci. Semakin banyak orang paham soal dasar ilmiah dari klaim nutrisi, makin kecil peluang industri untuk “mengelabui” publik dengan branding semata.

So, Klaim Tinggi Serat FACT or FAKE?!
Jawabannya: tergantung. Tidak semua produk menipu, tapi tidak semua juga jujur. Dengan pendekatan ilmiah dari analisis pangan, kita bisa tahu mana yang benar-benar tinggi serat, dan mana yang hanya tinggi harapan.

Jadi, next time kamu belanja granola, biskuit gandum, atau roti “sehat”, jangan langsung percaya sama embel-embel di depan kemasan, tanyakan dulu pada dirimu: “Ini FACT or just FAKE?”. Kemudian, lihat komposisi, baca label nutrisi, dan kalau perlu… riset sendiri. Karena konsumen cerdas adalah konsumen yang kritis!

Artikel ini ditulis :
Sulthanah Tsany Karamah
Mahasiswa Teknologi Pangan dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Referensi :
Amanda, E. N., Anggraini, D., Hasni, D., dan Jelmila, S. N. 2022. Gambaran Tingkat Pengetahuan Tentang Pentingnya Konsumsi Serat Untuk Mencegah Konstipasi pada Masyarakat Kelurahan Rengas Condong Kecamatan Muara Bulian/Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan: Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Vol. 9(2): 219-226.
Fahri, R. A., Wungouw, H. P. P. L., Woda, R. R., dan Koamesah, S. M. J. 2023. Hubungan Konsumsi Makanan Berserat dengan Pola Defekasi pada Siswa SMA Negeri 1 Taebenu. Cendana Medical Journal, 11(1), 90-100.
Handayani, T., Kusmana, K., Lukman, L., dan Hidayat, I. M. 2015. Karakterisasi Morfologi dan Evaluasi Daya Hasil Sayuran Polong Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC). Jurnal Hortikultura. Vol. 25(2): 126-132.
Janah, S. I., Wonggo, D., Mongi, E. L., Dotulong, V., Pongoh, J., Makapedua, D. M., dan Sanger, G. 2020. Kadar Serat Buah Mangrove Sonneratia alba Asal Pesisir Wori Kabupaten Minahasa Utara. Media Teknologi Hasil Perikanan. Vol. 8(2): 50-57.
Kementrian Kesehatan RI. 2022. Pengaruh Serat Pangan (Dietary Fiber) dan Manfaatnya Bagi Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI.
McCleary, B. V. 2023. Integrated total dietary fiber method: Combining and updating AOAC 2009.01 and AOAC 2011.25 into a single, improved method AOAC 2017.16 and its extensions. Journal of AOAC International. Vol. 106(2): 316-325.
Saidi, I. A., Azara, R., Ramadhani, S. N., dan Yanti, E. 2022. Nutrisi dan Komponen Bioaktif pada Sayuran Daun. Sidoarjo: UMSIDA Press.
Tuapattinaya, P. M. 2016. Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Kandungan Serat Kasar Tepung Biji Lamun (Enhalus acoroides), Serta Implikasinya Bagi Pembelajaran Masyarakat di Pulau Osi Kabupaten Seram Bagian Barat. BIOSEL (Biology Science and Education): Jurnal Penelitian Science dan Pendidikan. Vol. 5(1): 46-55.
Untari, D. S. 2024. Pembuatan Nugget Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) dengan Penambahan Tepung Kelor (Moringa oleifera) Sebagai Upaya Peningkatan Nilai Gizi: Pembuatan Nugget Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) dengan Penambahan Tepung Kelor (Moringa oleifera) Sebagai Upaya Peningkatan Nilai Gizi. Jurnal Pengolahan Perikanan Tropis. Vol. 2(1): 133-142.

 

  • Bagikan